(Oleh: M. Risky Fauzi)
Banyak pengalaman
yang bisa di dapatkan ketika seorang individu masuk kedalam dunia pendidikan.
Mulai dari menanjak perbukitan, menyebrangi sungai, serta berjalan berkilo-kilo
meter (menggunakan alat transportasi ataupun tidak menggunakan alat
transportasi) agar dapat tiba di lokasi yang merupakan hal yang melelahkan dan
menguras banyak tenaga. Bagi para pendidik, kata “melelahkan” merupakan kata yang tidak
memiliki makna, karena di lokasi tersebut yang akan mereka jumpai terdapat berlian-berlian
bangsa yang harus mereka didik untuk mengubah dan memperbaharui segalah sesuatu
yang tidak sesuai alurnya kelak (masa depan). Hampir semua sarjana muda yang
mengembang tugas mulia seperti uraian diatas memiliki pengalaman tersebut, yang
dimana tentu mereka mendidik para peserta didik didaerah terdepan, terluar dan
tertinggal atau lebih dikenal dengan singkatan “3T”.
3T merupakan daerah
kabupaten yang dimana masyarakat dan
wilayanya relatif kurang berkembang dibandingkan dengan beberapah daerah-daerah
lain dalam skala nasional. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Mentri Negara
Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor
07/PER/M-PDT/III/2007. Daerah 3T merupakan daerah yang bisa dikatakan
sebagai daerah yang cukup memprihatinkan dalam perhatian pemerintah disektor
pendidikan. Kurangnya tenaga pendidik, tingginya angka putus sekolah dan
pembagian fasilitas yang kurang merata merupakan beberapa hal yang seharusnya
diperhatikan oleh pemerintah. Perlu dipahami bahwa pendidikan merupakan salah
satu ujung tombak delam meningkatkan peradaban dan kesejahtraan bangsa serta
menikatkan kualitas mutu warga suatu negara. Oleh karena itu, pemerintah sejak
tahun 2011 dalam kementrian pendidikan dan kebudayaan (kemdikbud) melalui
Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti) telah mengeluarkan sebuah
program sebagai bentuk kepedulian pemerintah, yaitu “Maju bersama mencerdaskan
Indonesia (MBMI). Adapun salah satu program unggulannya yaitu Sarjana Mendidik
di wilaya 3T (SM-3T).
Program SM-3T
sendiri merupakan sebuah program dalam bentuk pengabdian sarjana lulusan
pendidikan untuk berpartisipasi dalam peningkatan kualitas pendidikan di daerah
3T selama Se-tahun. Hal tersebut sebagai bentuk persiapan untuk
melanjutkan program pendidikan profesi guru serta mendapatkan pengalaman
mengajar sehingga tercipta sikap profesional, empati, trampil, serta peduli
dalam dunia pendidikan di Indonesia. SM-3T memiliki tujuan untuk membantu
daerah 3T dalam mengatasi kurangnya tenaga pendidik yang dialami oleh daerah
tersebut.
Dalam menanggapi
permasalahan ini, penulis memberikan sebuah gagasan yang cukup berpengaruh
dalam meningkatkan daerah 3T tersebut. Adapun gagasan tersebut yaitu “Pengaruh
Budaya dan Lokasi Wisata Untuk Meningkatkan Pendidikan Daerah 3T”. Banyak daerah yang tergolong
daerah 3T yang memiliki wisata dan budaya yang baik tetapi pendidikan didaerah
tersebut dapat dikategorikan kurang baik, seperti daerah Konawe di Sulawesi
Tenggara, Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat dan Nias di Sumatera Utara.
Beberapa daerah yang telah diuraikan diatas diyakini memiliki Budaya yang masi
kental dan Lokasi wisata yang masi alami. Oleh karena itu, penulis berpendapat
bahwa budaya dan lokasi wisata yang dimiliki suatu daerah merupakan sebuah hal
yang sangar berharga untuk meningkatkan pendidikan, misalnya wisata tersebut
dijadikan sebagai wisata education . Adapun dalam sektor budaya dalam
pendidikan, dapat berperan sebagai ilmu tambahan yang didapatkan di lembaga
pendidikan. Contohnya seperti wayang yang berasal dari pulau jawa yang dimana
selain menjadi ilmu tambahan bagi para peserta didik, juga dapat di gunakan
ketika sebuah instansi atau lembaga pendidikan menggelar sebuah perlombaan. Hal tersebut memiliki
fungsi dalam meningkatkan perhatian pemerintah terhadap daerah tersebut.
Pada era moderen sekarang, mengenalkan sebuah budaya dan lokasi wisata sudah
tergolong sangat mudah, dengan cara memanfaatkan smartphone dan sosial media.
Berdasarkan uraian
di atas pemerintah seharusnya lebih berperan aktif dalam menanggapi ataupun
menanggulangi daerah yang masih tergolong 3T. Di samping memperhatikan daerah
yang masih tergolong 3T. Pemerintah juga harus paham terkait strategi apa yang
tepat diimplementasikan untuk meningkatkan kualitas Pendidikan di daerah
tersebut seperti halnya budaya dan beberapa lokasi wisata di masing-masing
daerah.