Penanyang

Kamis, 08 November 2018

PENGARUH BUDAYA DAN LOKASI WISATA UNTUK MENINGKATKANDAERAH 3T


(Oleh: M. Risky Fauzi)

Banyak pengalaman yang bisa di dapatkan ketika seorang individu masuk kedalam dunia pendidikan. Mulai dari menanjak perbukitan, menyebrangi sungai, serta berjalan berkilo-kilo meter (menggunakan alat transportasi ataupun tidak menggunakan alat transportasi) agar dapat tiba di lokasi yang merupakan hal yang melelahkan dan menguras banyak tenaga. Bagi para pendidik, kata  “melelahkan” merupakan kata yang tidak memiliki makna, karena di lokasi tersebut yang akan mereka jumpai terdapat berlian-berlian bangsa yang harus mereka didik untuk mengubah dan memperbaharui segalah sesuatu yang tidak sesuai alurnya kelak (masa depan). Hampir semua sarjana muda yang mengembang tugas mulia seperti uraian diatas memiliki pengalaman tersebut, yang dimana tentu mereka mendidik para peserta didik didaerah terdepan, terluar dan tertinggal atau lebih dikenal dengan singkatan “3T”.
3T merupakan daerah  kabupaten yang dimana masyarakat dan wilayanya relatif kurang berkembang dibandingkan dengan beberapah daerah-daerah lain dalam skala nasional. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Mentri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor  07/PER/M-PDT/III/2007. Daerah 3T merupakan daerah yang bisa dikatakan sebagai daerah yang cukup memprihatinkan dalam perhatian pemerintah disektor pendidikan. Kurangnya tenaga pendidik, tingginya angka putus sekolah dan pembagian fasilitas yang kurang merata merupakan beberapa hal yang seharusnya diperhatikan oleh pemerintah. Perlu dipahami bahwa pendidikan merupakan salah satu ujung tombak delam meningkatkan peradaban dan kesejahtraan bangsa serta menikatkan kualitas mutu warga suatu negara. Oleh karena itu, pemerintah sejak tahun 2011 dalam kementrian pendidikan dan kebudayaan (kemdikbud) melalui Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti) telah mengeluarkan sebuah program sebagai bentuk kepedulian pemerintah, yaitu “Maju bersama mencerdaskan Indonesia (MBMI). Adapun salah satu program unggulannya yaitu Sarjana Mendidik di wilaya 3T (SM-3T).
Program SM-3T sendiri merupakan sebuah program dalam bentuk pengabdian sarjana lulusan pendidikan untuk berpartisipasi dalam peningkatan kualitas pendidikan di daerah 3T selama Se-tahun.     Hal tersebut sebagai bentuk persiapan untuk melanjutkan program pendidikan profesi guru serta mendapatkan pengalaman mengajar sehingga tercipta sikap profesional, empati, trampil, serta peduli dalam dunia pendidikan di Indonesia. SM-3T memiliki tujuan untuk membantu daerah 3T dalam mengatasi kurangnya tenaga pendidik yang dialami oleh daerah tersebut.
Dalam menanggapi permasalahan ini, penulis memberikan sebuah gagasan yang cukup berpengaruh dalam meningkatkan daerah 3T tersebut. Adapun gagasan tersebut yaitu “Pengaruh Budaya dan Lokasi Wisata Untuk Meningkatkan Pendidikan  Daerah 3T”. Banyak daerah yang tergolong daerah 3T yang memiliki wisata dan budaya yang baik tetapi pendidikan didaerah tersebut dapat dikategorikan kurang baik, seperti daerah Konawe di Sulawesi Tenggara, Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat dan Nias di Sumatera Utara. Beberapa daerah yang telah diuraikan diatas diyakini memiliki Budaya yang masi kental dan Lokasi wisata yang masi alami. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa budaya dan lokasi wisata yang dimiliki suatu daerah merupakan sebuah hal yang sangar berharga untuk meningkatkan pendidikan, misalnya wisata tersebut dijadikan sebagai wisata education . Adapun dalam sektor budaya dalam pendidikan, dapat berperan sebagai ilmu tambahan yang didapatkan di lembaga pendidikan. Contohnya seperti wayang yang berasal dari pulau jawa yang dimana selain menjadi ilmu tambahan bagi para peserta didik, juga dapat di gunakan ketika sebuah instansi atau lembaga pendidikan menggelar sebuah perlombaan.  Hal tersebut  memiliki  fungsi dalam meningkatkan perhatian pemerintah terhadap daerah tersebut. Pada era moderen sekarang, mengenalkan sebuah budaya dan lokasi wisata sudah tergolong sangat mudah, dengan cara memanfaatkan smartphone dan sosial media.
Berdasarkan uraian di atas pemerintah seharusnya lebih berperan aktif dalam menanggapi ataupun menanggulangi daerah yang masih tergolong 3T. Di samping memperhatikan daerah yang masih tergolong 3T. Pemerintah juga harus paham terkait strategi apa yang tepat diimplementasikan untuk meningkatkan kualitas Pendidikan di daerah tersebut seperti halnya budaya dan beberapa lokasi wisata di masing-masing daerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar